MAKALAH
BANJIR
MENYUSAHKAN MASYARAKAT
IPS
DI
SUSUN OLEH :
SMP
NEGERI 2 PAITON
PROBOLINGGO,
JAWA TIMUR
Judul Makalah :
BANJIR MENDATANGKAN MUSIBAH
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat
Tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan niknat rahmatnyalah maka saya bisa
menyelesaikan maakalaah ini dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah
yang berjudul “BANJIR MENDATANGKAN MUSIBAH” yang menurut saya dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita untuk saling menjaga dan melestarikan lingkungan.
Melalui kata penghantar ini penulis terlebih dahulu
meminta maaf dan mohon memaklumi bila mana isi makalah ini ada yang kurang dan
ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan
seluruh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga
memberi manfaat.
Probolinggo, 3, 10, 2014
“FRINA DEWI KHOIRONISA”.
Daftar isi
DAFTAR ISI bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam
mencari isi dari makalah, berikut ini
halamanya :
1.Halaman judul……………………. i
2.Prakata………………………….…ii
3.Daftar Isi…………………….……iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan
(yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Definisi kedua dari
kamus tersebut, banjir adalah berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap.
Pengertian kedua ini biasanya dipakai untuk menyebutkan sungai atau kali yang
banjir. Kalau kata “banjir” ini ditambah awalan “me” dan akhiran “i” jadi
“membanjiri” maka artinya menjadi “menggenangi”. Jadi, kalau dipakai dalam
kalimat “Hujan membanjiri jalan raya” itu sama saja artinya dengan hujan
menggenangi jalan raya. Dari kalimat itu menunjukkan kalau antara “banjir” dan
“genangan” memiliki pengertian yang sama, tidak berbeda. Hal ini berarti
pemahaman Bang Foke tentang banjir itu kurang tepat.banjir adalah suatu keadaan
sungai, dimana aliran air tidak tertampung oleh palung sungai, sehingga terjadi
limpasan, dan atau genangan pada lahan yang semestinya kering.
Banjir sebagai suatu keadaan air yang
menenggelami atau menggenangi sesuatu kawasan atau tempat yang luas. Adapula
yang mendefinisikan banjir sebagai luapan air yang melebihi dari standar
kapasitas akibat hujan yang terus-menerus. Ada lagi yang menyatakan banjir
sebagai hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan
bumi kawasan tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dalam pembuatan ini tentu saja tisak terlepas dari permasalahan
yang ingion dicapai oleh penulis. Dan permasalahan itu antara lain :
1. Apakah pengertian banjir?
2. Apakah faktor penyebab banjir?
3. Bagaimana cara
pencegahan terhadap banjir
4. Dampak dari banjir
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam pembuatan makalah ini
adalah :
1. Ingin mengetahui pengertian banjir ;
2. Ingin mengetahui cara pencegahan terhadap banjir;
3. Ingin mengetahui
dampak dari banjir;
4. Ingin mengetahui faktor penyebab banjir;
D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh penulis adalah :
1. Dapat mengetahui
pengertian banjir;
2.Dapat mengetahui cara pencegahan terhadap banjir;
3. Dapat mengetahui
dampak dari banjir;
4. Dapat mengetahui
faktor penyebab banjir;
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Banjir
Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan
merendam daratan.Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai
perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air.
Dalam arti "air mengalir", kata ini
juga dapat berarti masuknya pasang laut.
Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga
air keluar dari batasan alaminya.
Ukuran danau atau badan air terus berubah-ubah
sesuai perubahan curah hujan dan pencairan salju musiman, namun banjir yang
terjadi tidak besar kecuali jika air mencapai daerah yang dimanfaatkan manusia
seperti desa, kota, dan permukiman lain.
Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika
alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir
sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran
banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan
pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan
bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta
perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di
wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar
daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.
Menurut SK SNI M-18-1989-F (1989) dalam
(Suparta (2004) dijelaskan bahwa Banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan
tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran. Aliran yang dimaksud disini
adalah aliran air yang sumbernya bisa dari mana aja. Dan air itu ngeluyur
keluar dari sungai atau saluran karena sungai atau salurannya sudah melebihi
kapasitasnya. Kondisi inilah yang disebut banjir.
B. Factor Penyebab Banjir
Pada dasarnya banjir itu disebabkan oleh
luapan aliran air yang terjadi pada saluran atau sungai. Bisa terjadi dimana
saja, ditempat yang tinggi maupun tempat yg rendah. Pada saat air jatuh
kepermukaan bumi dalam bentuk hujan (presipitasi), maka air itu akan mengalir
ketempat yang lebih rendah melalui saluran2 atau sugai2 dalam bentuk aliran
permukaan (run off) sebagian akan masuk/meresap kedalam tanah (infiltrasi) dan
sebagiannya lagi akan menguap keudara (evapotranspirasi).
Sebenarnya banjir merupakan peristiwa yang alami pada daerah
dataran banjir, mengapa bisa alami??? Karena dataran banjir terbentuk akibat
dari peristiwa banjir.
Dataran banjir merupakan derah yang terbentuk
akibat dari sedimentasi (pengendapan) banjir. Saat banjir terjadi, tidak hanya
air yang di bawa tapi juga tanah2 yang berasal dari hilir aliran sungai.
Dataran banjir biasanya terbentuk di daerah pertemuan2 sungai. Akibat dari
peristiwa sedimentasi ini, dataran banjir merupakan daerah yg subur bagi
pertanian, mempunyai air tanah yang dangkal sehingga cocok sekali bagi
pemukiman dan perkotaan.
Itu faktor penyebab banjir yang alami….
sekarang kita tengok yg tidak alami atau akibat dari perubahan.
Ada dua faktor perubahan kenapa banjir terjadi
:
Pertama itu perubahan lingkungan dimana
didalamnya ada perubahan iklim, perubahan geomorfologi, perubahan geologi dan
perubahan tata ruang. Dan kedua adalah perubahan dari masyarakat itu sendiri
Hujan merupakan faktor utama penyebab banjir.
Perubahan iklim menyebabkan pola hujan berubah dimana saat ini hujan yang
terjadi mempunyai waktu yang pendek tetapi intensitasnya tinggi. Akibat keadaan
ini saluran2 yg ada tidak mampu lagi menampung besarnya aliran permukaan dan
tanah2 cepat mengalami penjenuhan.
Berdasarkan penelitian Diarniti (2007) jumlah
vegetasi di denpasar pada tahun 1994 adalah 45.31% dan pada tahun 2003 itu
17.86%, klo gitu dah berkurang 27,45% dari tahun 1994 sampai 2003.
Akibat global
warming / pemanasan global
menyebabkan terjadinya perubahan pada pola iklim yg akhirnya merubah pola curah
hujan, makanya jngan heran kalau sewaktu-waktu hujan bisa sangat tinggi
intensitasnya dan kadang sangat rendah. Berdasarkan analisis statistik data
curah hujan dari tahun 1900 sampai tahun 1989 terhadap variansi hujan dengan
menggunakan uji F dihasilkan bahwa telah terjadi perubahan intensitas hujan untuk
lokasi Ambon, Branti, Kotaraja, Padang, Maros, Kupang, Palembang, dan Pontianak
(Slamet dan Berliana, 2006). Berdasarkan kajian LAPAN (2006) banjir yang
terjadi di Jakarta Januari tahun 2002, Juni 2004 dan Februari 2007 bertepatan
dengan fenomena La Nina dan MJO (Madden-Julian oscillation), kedua fenomena ini
menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan diatas normal. Memang,
berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut bukan hanya faktor iklim yang
menyebabkan terjadinya banjir, tp juga di sebabkan oleh perubahan penggunaan
lahan dan penyempitan saluran drainase (sungai).
Perubahan penggunaan lahan dan otomatis juga
terjadi perubahan tutupan lahan ~penggunaan lahan itu ada pemukiman, sawah,
tegalan, ladang dll sedangkan tutupan lahan itu vegetasi yang tumbuh di atas
permukaan bumi menyebabkan semakin tingginya aliran permukaan. Aliran permukaan
terjadi apabila curah hujan telah melampaui laju infiltrasi tanah. Menurut
Castro (1959) tingkat aliran permukaan pada hutan adalah 2.5%, tanaman kopi 3%,
rumput 18% sedangkan tanah kosong sekitar 60%. Sedangkan berdasarkan penelitian
Onrizal (2005) di DAS Ciwulan, penebangan hutan menyebabkan terjadinya kenaikan
aliran permukaan sebesar 624 mm/th. Itu baru perhitungan yg di lakukan pada
daerah hutan yg ditebang dimana masih ada tanah yang bisa meresapkan air.
Kembali lagi kita ke hutan yang digunakan
sebagai sampel apabila ga ada vegetasi dan pengaruhnya terhadap aliran
permukaan dan debit sungai. Onrizal (2005) juga mengungkapkan bahwa penebangan
hutan menyebabkan berkurangnya air tanah rata-rata sebesar 53.2 mm/bln.
Sedangkan kemampuan peresapan air pada DAS berhutan lebih besar 34.9 mm/bln di
bandingkan dengan DAS tidak berhutan. Selain itu hasil penelitiannya juga
menunjukkan bahwa apabila tanaman di bawah pohon hutan ~tanaman2 yg kecil2 tuh~
itu hilang akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan yang mencapai 6.7
m3/ha/blan.
Hasil penelitian Bruijnzeel (1982) dalam
Onrizal (2005) yang di lakukan pada areal DAS Kali Mondoh pada tanaman hutan
memperlihatkan bahwa debit sungai pada bulan mei, juli, agustus dan september
lebih tinggi dari curah hujan yang terjadi pada saat bulan2 tersebut, ini
membuktikan bahwa vegetasi sebagai pengatur tata air dimana pada saat hujan
tanaman membatu proses infiltrasi sehinggaa air disimpan sebagai air bawah
tanah dan dikeluarkan saat musim kemarau. Menurut Suroso dan Santoso (2006)
dalam WWF-Indonesia (2007) perubahan penggunaan lahan sangat berpengaruh
terhadap peningkatan debit sungai.
Hasil penelitian Fakhrudin (2003) dalam Yuwono
(2005) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di DAS Ciliwung tahun
1990-1996 akan meningkatkan debit puncak dari 280 m3/det menjadi 383 m3/det,
dan juga meningkatkan persentase hujan menjadi direct run-off dari 53 % menjadi
63 %. Dalam makalah yang sama Yuwono (2005) juga mengungkapkan pengurangan luas
hutan dari 36% menjadi 25%, 15% dan 0% akan menaikkan puncak banjir
berturut-turut 12,7%, 58,7% dan 90,4%.
Menurut Yuwono (2005) pengurangan luas hutan
dari 36% menjadi 25%, 15% dan 0% akan meningkatkan laju erosi sebesar 10%, 60%
dan 90%. Akibat dari erosi ini tanah menjadi padat, proses infiltrasi
terganggu, banyak lapisan atas tanah yang hilang dan terangkut ke tempat-tempat
yang lebih rendah, tanah yang hilang dan terangkut inilah yang menjadi sedimentasi
yang dapat mendangkalkan waduk2, bendungan2 dan sungai2. setelah terjadi
seperti itu, kapasitas daya tampung dari saluran irigasi tersebut menjadi lebih
kecil yang akhirnya dapat menyebabkan banjir walaupun dalam kondisi curah hujan
normal. Menurut Priatna (2001) kerusakan tanah akibat terjadinya erosi dapat
menyebabkan bahaya banjir pada musim hujan, pendangkalan sungai atau waduk2
serta makin meluasnya lahan-lahan kritis.
C. Dampak dari Banjir
Dampak primer
Dampak sekunder
- Persediaan air – Kontaminasi air. Air minum bersih mulai langka.
- Penyakit -
Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air.
- Pertanian dan persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan
panen. Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai
akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
- Pepohonan' -
Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas.
- Transportasi -
Jalur transportasi hancur, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada
orang-orang yang membutuhkan.
Bab
III
Upaya
pengendalin ( Mengatasi Banjir )
Penanggulangan Banjir
1. Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Karena
sungai dan selokan merupakan tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah
menjadi tempat sampah.
2. Larangan membuat rumah
di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para
pendatang yang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya,
keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian, akan tetapi malah
sebaliknya, merusak lingkungan. Itu sebabnya pemerintah harus tegas, melarang
membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas
datang ke kota dalam jangka waktu lama atau untuk menetap.
3. Menanam pohon dan pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi
lagi. Karena pohon adalah salah satu penopang kehidupan di suatu ktoa.
Banyangkan, bila sebuah kota tidak memiliki pohon sama sekali. Apa yang akan
terjadi? Pohon selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang hari,
sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada
lagi phon, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila hujan tiba.